Definisi Anemia

Anemia merupakan masalah gizi yang banyak dijumpai di berbagai negara dan mempunyai konsekuensi negatif terhadap kesejahteraan, kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat (Ramakrishnan 2001). Anemia adalah kondisi dimana volume sel darah merah di dalam tubuh lebih rendah dari normal atau kondisi dimana hemoglobin pada sel darah merah lebih rendah dari normal (Peterson 2008).

Anemia menurut Brody (1994) adalah kondisi sel darah merah dan hemoglobin jumlahnya sedikit sehingga kemampuan membawa oksigen berkurang. Anemia terjadi apabila kepekatan hemoglobin dalam darah di bawah batas normal. Hemoglobin adalah sejenis pigmen yang terdapat di dalam sel darah merah, bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh.

Departemen Kesehatan (1998) mendefinisikan anemia gizi sebagai suatu keadaan kekurangan kadar hemoglobin dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Menurut Sukandar et al (2007), anemia merupakan sekelompok gangguan yang dikarakterisasi dengan penurunan hemoglobin atau sel darah merah (SDM), berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah.

Definisi anemia secara terangkum adalah suatu keadaan dimana kadar sel darah merah dan hemoglobin di bawah normal yang disebabkan karena menurunnya kemampuan tubuh dalam memproduksi sel darah merah yang berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Anemia gizi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana kadar sel darah merah dan hemoglobin di bawah normal yang disebabkan karena kekurangan zat gizi untuk pembentukan sel darah merah dan hemoglobin yang dapat berakibat pada pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah.

Definisi Anemia Pernisiosa

Selain defisiensi zat besi, anemia juga terjadi karena defisiensi vitamin A, vitamin C, asam folat, vitamin B12 atau secara umum karena kekurangan zat gizi (Beard 2000). Nama anemia pernisiosa merujuk kepada defisiensi vitamin B12 yang disebabkan karena kekurangan faktor intrinsik bukan karena kurangnya asupan makanan (Sizer&Ellie 2008). Anemia pernisiosa pertama kali dijelaskan oleh Thomas Addison pada tahun 1849. Anemia dihubungkan dengan lambung oleh Austin Flint pada tahun 1860 dan segera diberi nama ‘pernicious anemia’ (Epstein&Franklin 1997). Rendahnya kadar vitamin B12 atau folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik. Anemia pernisiosa terjadi karena ukuran sel darah merah membesar sehingga sering juga disebut anemia megaloblastik.

Menurut Restiadie (2009), anemia pernisiosa adalah anemia yang ditandai oleh adanya eritroblas yang besar, terjadi akibat gangguan maturasi inti sel. Hal tersebut menyebasbkan sel darah merah (eritrosit) pada penderita anemia pernisiosa memiliki ukuran yang besar.

Jenis-jenis Anemia (Anonima 2008)

Anemia tidak selalu disebabkan karena kekurangan zat besi. Banyak penyebab anemia akibat kekurangan zat gizi. Berikut ini adalah jenis-jenis anemia yang disertai dengan penyebabnya.

1. Anemia Karena Kekurangan Asam Folat

Anemia Karena Kekurangan Asam Folat adalah suatu anemia megaloblastik yang disebabkan kekurangan asam folat. Asam folat adalah vitamin yang terdapat pada sayuran mentah, buah segar dan daging, tetapi proses memasak biasanya dapat merusak vitamin ini. Karena tubuh hanya menyimpan asam folat dalam jumlah kecil, maka suatu makanan yang sedikit mengandung asam folat, akan menyebabkan kekurangan asam folat dalam waktu beberapa bulan.

2. Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12

Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas).

3.  Anemia Karena Kekurangan Vitamin C

Anemia Karena Kekurangan Vitamin C adalah sejenis anemia yang jarang terjadi, yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C yang berat dalam jangka waktu yang lama, rutin melalui air kemih.

4. Anemia Karena Kekurangan Zat Besi

Anemia Karena Kekurangan Zat Besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada di bawah normal, yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Beberapa zat gizi diperlukan dalam pembentukan sel darah merah.

5. Anemia Karena Kelainan Pada Sel Darah Merah

Penghancuran sel darah merah bisa terjadi karena:

– sel darah merah memiliki kelainan bentuk

– sel darah merah memiliki selaput yang lemah dan mudah robek

– kekurangan enzim yang diperlukan supaya bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan enzim yang menjaga kelenturan sehingga memungkinkan sel darah merah mengalir melalui pembuluh darah yang sempit.

6. Anemia karena kekurangan G6PD

Kekurangan G6PD adalah suatu penyakit dimana enzim G6PD (glukosa 6 fosfat dehidrogenase) hilang dari selaput sel darah merah. Enzim G6PD membantu mengolah glukosa (gula sederhana yang merupakan sumber energi utama untuk sel darah merah) dan membantu menghasilkan glutation (mencegah pecahnya sel).

7.  Anemia Karena Penyakit Kronik

Penyakit kronik sering menyebabkan anemia, terutama pada penderita usia lanjut. Keadaan-keadaan seperti infeksi, peradangan dan kanker, menekan pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Karena cadangan zat besi di dalam tulang tidak dapat digunakan oleh sel darah merah yang baru, maka anemia ini sering disebut anemia anemia penggunaan ulang zat besi.

  1. Anemia Karena Perdarahan Hebat

Anemia Karena Perdarahan Hebat adalah berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang disebabkan oleh perdarahan hebat.seperti kecelakaan, pembedahan, persalinan, pecahnya pembuluh darah, perdarahan hidung dan wasir, perdarahan menstruasi yang sangat banyak.

Etiologi Anemia Pernisiosa

Anemia pernisiosa terjadi karena tubuh kekurangan vitamin B12. Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas) (Anonim 2008).

Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat, hidroksiurea, fluorourasil dan sitarabin) (Nurcahyo 2007).

Tubuh memerlukan vitamin B12 untuk membuat sel darah merah dan menjaga sistem saraf bekerja normal. Anemia tipe ini sering terjadi pada orang yang tubuhnya tidak dapat mengabsorbsi vitamin B12 dari makanan karena gangguan autoimun. Hal tersebut juga dapat terjadi karena terdapat gangguan pada intestinal penderita (Peterson 2008). Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus besar (ilium). Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja.

Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik, sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari.
Tetapi karena hati menyimpan sejumla besar vitamin B12, maka anemia biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti menyerap vitamin B12. Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari kekurangan vitamin B12 adalah:

– pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi penyerapan vitamin B12

– penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)

– pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12 diserap

– vegetarian (Nurcahyo 2007).

Metabolisme vitamin B12 dan asam folat akan terganggu akibat adanya gangguan sintesis DNA yang dapat menimbulkan gangguan maturasi (Restiadie 2009). Seseorang juga dapat terkena anemia pernisiosa jika pada makanan yang dikonsumsinya tidak cukup mengandung vitamin B12 (Peterson 2008).

Anemia pernisiosa berpotensi besar menyerang individu yang telah berusia lanjut. Hal ini disebabkan karena kemampuan lambung dalam memproduksi faktor intrinsik berkurang, sehingga tubuh kekurangan vitamin B12 dan timbul anemia pernisiosa.

Tanda dan Gejala Anemia Pernisiosa

Tanda dan gejala anemia pernisiosa pada umumnya seperti tanda dan gejala anemia lainnya. Seseorang yang menderita anemia pernisiosa akan tampak lemah dan pucat sebagai akibat ketidakmampuan sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah sehingga menyebabkan kurangnya volume sel darah merah dalam tubuh (Restiadie 2009).

Tanda dan gejala lainnya pada penderita anemia pernisiosa yaitu akan muncul ikterus, di mana sklera mata berubah warna menjadi kuning. Adanya defisiensi vitamin B12 menyebabkan kerja jaringan saraf terganggu. Gangguan ini ditandai dengan munculnya gejala neuropati. Selain mengurangi pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12 juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:

– kesemutan di tangan dan kaki

– hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan

– gangguan pergerakan (Nurcahyo 2007).

Gejala lainnya adalah:

– buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru

– luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar (glositis)

– penurunan berat badan

– warna kulit menjadi lebih gelap

– linglung

– depresi

– penurunan fungsi intelektual

– purpura tromositopenik (Nurcahyo 2007).

Patofisiologi Anemia Pernisiosa

Anemia terjadi akibat gangguan maturasi inti sel akibat gangguan sintesis DNA sel-sel eritroblas. Defisienasi asam folat akan mengganggu sintesis DNA hingga terjadi gangguan maturasi inti sel dengan akibat timbulnya sel-sel megaloblas. Defesiensi vitamin B12 yang berguna dalam reaksi metilasi homosisten menjadi metionin dan reaksi ini berperan dalam mengubah metil THF menjadi DHF yang berperan dalam sintesis DNA dan akan mengganggu maturasi inti sel dengan akibat terjadinya megaloblas (Restiadie 2009).

Penyebab dasar keabnormalan dari absorpsi vitamin B12 adalah adanya atrofi mukosa lambung sehingga mukosa lambumg gagal mengekresikan cairan lambung. Pada keadaan normal, sel-sel parietal pada glandula gaster mengekresikan glikoprotein yang disebut factor intrinsic yang bergabung dengan vitamin B12 sehingga vitamin B12 dapat diabsorpsi, dan selanjutnya terjadi tahapan sebagai berikut:

1. Faktor intrinsik berikatan erat dengan vitamin B12. Dalam keadaan terikat, Vitamin B12 terlindungi dari percernaan oleh enzim-enzim gastrointestinal.

2. Masih dalam keadaan terikat, faktor intrinsik akan berikatan dengan reseptor khusus yang terletak di bagian tepi membran sel mukosa pada Ileum.

3. Vitamin B12 diangkut kedalam darah selama beberapa jam berikutnya melalui proses pinositosis, yang mengangkut faktor intrinsik dan vitamin bersama melewati membran. Oleh karena itu, bila faktor intrinsik tidak ada maka benyak vitamin yang hilang (termasuk vitamin B12) karena kerja enzim pencernaan dalam usus dan kegagalan absorpsi (Nazran 2009).

Gambaran Prevalensi Anemia Pernisiosa

Semua orang dari berbagai ras berpeluang menderita anemia pernisiosa. Namun demikian, bangsa Eropa sebelah utara atau di daratan Afrika mempunyai resiko yang lebih besar daripada ras dan kelompok etnis lainnya (para dokter di MedicineNet.com 2007). Hasil survey pada pertengahan bulan November tahun 1997 mengungkapkan bahwa hanya 1,9% orang berusia lebih dari 60 tahun yang tidak didiagnosa menderita anemia pernisiosa, berarti selebihnya yaitu sebagian besar orang pada usia lebih dari 60 tahun berpeluang sangat besar mengalami salah satu tipe anemia tersebut (Epstein&Franklin 1997).

Para dokter di MedicineNet.com (2007) juga menyatakan bahwa para laki-laki dan perempuan di Amerika Serikat memiliki peluang yang sama untuk menderita anemia pernisiosa. Tetapi kondisi ini biasanya dialami oleh orang-orang dewasa akhir atau tua daripada orang-orang yang masih muda, dan jarang dialami oleh anak-anak. Terdapat beberapa laporan bahwa keluarga berkulit putih memiliki peluang besar terhadap anemia pernisiosa dalam beberapa generasi. Epstein dan Franklin (1997) mengungkapkan bahwa sekitar 20% keluarga pasien dengan anemia pernisiosa juga menderita penyakit yang sama.

Sumber dan Manfaat Vitamin B12

Distribusi vitamin B12 pada makanan ditemukan dalam makanan yang mengandung bakteri fermentasi dan bentuk lainnya dari jaringan hewan yang berasal dari intestinal mikroflora yang juga dicerna. Sintesis vitamin B12 tergantung pada bakteri.

Jaringan hewan yang terakumulasi vitamin B12 banyak mengandung viotamin dan sumber vitamin B12. Sumber terbanyak vitamin B12 adalah produk-produk hewani. Secara alami vitamin B12 dalam makanan merupakan koenzim protein yang dikeluarkan saat pemasaman lambung dan atau proteolisis (Combos 1992). Peran Vitamin B12 antara lain:

  1. Mengandung kobalt
  2. Kofaktor pada transfer satu unit karbon pada sintesis DNA
  3. Defisiensi vitamin  B12 akan menimbulkan anemia megaloblastik yang disertai dengan kelainan neurologis

Vitamin B12 merupakan vitamin larut air yang diproduksi oleh bakteri dalam usus. Vitamin tersebut akan diabsorbsi dari saluran cerna dengan bantuan faktor intrinsik yang dihasilkan oleh sel parietal lambung. Vitamin B12 akan disimpan oleh tubuh di dalam hepar. Terdapat dua bentuk vitamin B12 yaitu cyanocobalamin dan hydroxocobalamin. Bentuk tersebut dapat bereaksi menjadi dua bentuk, yaitu:

  1. Konversi metil-malonil KoA menjadi suksinil KoA
  2. Konversi homosistein menjadi metionin

Viatmin B12 dalam penggunaannya secara klinis sebagai obat bagi anemia pernisiosa dan anemia yang disebabkan karena reaksi lambung (Ernawati 2008).

Diagnosa

Biasanya, kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk anemia. Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop, tampak megaloblas (sel darah merah berukuran besar). Juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit, terutama jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama Jika diduga terjadi kekurangan, maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah. Jika sudah pasti terjadi kekurangan vitamin B12, bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya. Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik. Adapun langkah pemeriksaannya yaitu:

  1. Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik. Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita anemia pernisiosa.
  2. Pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu analisa lambung.
    Dimasukkan sebuah selang kecil (selang nasogastrik) melalui hidung, melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung.
  3. Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor intrinsik) ke dalam sebuah vena. Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik.

Jika penyebabnya masih belum pasti, bisa dilakukan tes Schilling.
Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya. Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin B12, lalu penyerapannya diukur kembali. Jika vitamin B12 diserap dengan faktor intrinsik, tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik, maka diagnosisnya pasti anemia pernisiosa.

Pentatalaksanaan Anemia Pernisiosa

Pentatalaksanaan atau pengobatan untuk anemia pernisiosa terbagi berdasarkan penyebab kekurangan zat gizinya, yaitu:

– Untuk defisiensi B12

1. Diberikan viatamin B12 100-1000 μg/ hari selama 2 minggu selanjutnya 100- 1000 μg / bulan

2. Transfusi darah

3. Sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12 per-oral (ditelan), karena itu diberikan melalui suntikan. Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu, selama beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal.Selanjutnya suntikan diberikan 1 kali/bulan.

– Untuk defisiensi asam folat

Diberikan asam folat 1-5 mg /hari secara oral selama 1-5 minggu.

Pencegahan

Pada dokter terutama para dokter di MedicineNet.com (2007) belum mengetahui secara pasti cara mencegah anemia pernisiosa yang disebabkan dari sistem imun yang merusak sel parietal (sel induk) dalam lambung. Sebenarnya cara pencegahan anemia pernisiosa merupakan upaya yang tidak terlalu sulit karena dapat dilakukan dengan hanya mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B12. Makanan-makanan yang kaya asam folat yaitu antara lain jus jeruk, jeruk, daun selada , bayam, hati, beras, barley, kecambah, gandum, kacang kedelai, buncis, kacang-kacangan, brokoli, asparagus, dan sayur-sayuran berdaun hijau lainnya. Sedangkan makanan-makanan yang kaya asam folat dan vitamin B12 antara lain telur, susu, daging, unggas, ikan, jenis-jenis ikan yang bercangkang, dan sereal (Anonim 2008). Vitamin B12 juga dapat diperoleh dari multivitamin dan suplemen-suplemen B kompleks. Para dokter merekomendasikan pemberian suplemen bagi individu yang memiliki resiko terhadap defisiensi vitamin B12, seperti bayi dan anak-anak dari ibu yang vegan (para dokter di MedicineNet.com 2007).

Pengobatan standar adalah injeksi (suntikan) paling sedikit 100 μg vitamin B12 untuk memulihkan defisiensi vitamin. Pengobatan tersebut mampu mengatasi anemia dan komplikasi neurologi jika segera diberikan setelah tanda-tanda awal anemia diketahui. Bagi para penderita yang berusia lebih tua dengan atrofi lambung disarankan untuk mengkonsumsi tablet yang mengandung 25 μg sampai 1 mg vitamin B12 setiap hari untuk mencegah defisiensi vitamin B12. Rekomendasi didasarkan pada pengamatan bahwa sekitar 1% vitamin B12 diserap oleh sejumlah aksi tanpa faktor intrinsik (Epstein&Franklin 1997). Kejenuhan cadangan vitamin ini dalam tubuh mampu mengatasi secara cepat anemia yang berkenaan dengan riwayat penyakit orang tua. Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang, maka anemia ini bisa dicegah melalui pola makanan yang seimbang. Sumber makanan yang berasal dari hewani merupakan makanan yang banyak mengandung vitamin B12. Oleh karena itu, telah terbukti bahwa koreksi terhadap defisiensi kobalamin (vitamin B12) pada anemia pernisiosa tersebut dapat diatasi dengan berbagai cara.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2008. Jenis-jenis anemia. http://www.i-comers international.com [9 September 2010].

______b. 2008. Tujuh dari 10 Wanita Hamil Terkena Anemia http://keluargacemara.com/kesehatan/kehamilan/tujuh-dari-10-wanita-hamil-terkena-anemia.html [19 September 2010].

______c. 2008. Blood Disease: Megaloblastic (Pernisiosa) Anemia. http://www.umm.edu/blood/aneper.htm [19 September 2010].

_______. 2009. Do you have anemia?. http://izzrawda.wordpress.com/2009/03/16/do-you-have-anemia/ [19 September 2010].

______a. 2010. COPD (Chronic obstructive pulmonary disease). http://nursingforuniverse.blogspot.com/2010/01/askep-klien-ppom-copd-ppok.html [19 September 2010].

______b. 2010. Kompleksnya vitamin B kompleks. http://anonimgue-anonim.blogspot.com/2010/08/kompleksnya-vitamin-b-kompleks.html [19 September 2010].

______c. 2010. Anemia pernisiosa.  http://sodiycxacun.blogspot.com/2010/04/anemi-pernisiosa-defisiensi-vit-B12.html [19 September 2010].

Ariotejo B. 2009. Anemia karena kekurangan asam folat.   http://bimaariotejo.wordpress.com/2009/06/06/anemia-karena kekurangan-asam-folat/ [19 September 2010].

Beard JL. 2000. Iron requirements in adolescene female. The Journal of Nutrition 130: 440s-442s [9 September 2010].

Brody T. 1994. Nutrition Biochemistry. London: Academic Press.Restiadie DN. 2009. Anemia pernisiosa.  http://deddyrn.blogspot.com/2009/09/anemia-pernisiosa.html [9 September 2010].

Depkes [Departemen Kesehatan]. 1998. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Puteri dan Wanita Usia Subur. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Epstein, Franklin H., ed. 1997. Mechanisms of Disease: Pernicious Anemia. The New England Journal of Medicine 20: vol. 337.

Ernawati. 2008. Hematologi. www.hematologi-pdf.html [9 September 2010].

Nazran. 2009. Anemia. http://nazran.wordpress.com/tag/anemia/ [19 September 2010].

Nurcahyo. 2007. Anemia kekurangan vitamin B12. http://www.indonesiaindonesia.com/f/13480-anemia-kekurangan-vitamin-B12/ [9 September 2010].

Peterson CM. 2008. Anemia. http://www.womenshealth.gov [9 September 2010].

Ramakrishnan U. 2001. Functional consequences of nutritional anemia during pregnancy and early children. Di dalam Ramakrishnan ed: Nutritional Anemias (hal.43-68). Florida: CRC Press.

The Doctors at MedicineNet.com. 2007. Pernicious Anemia. http://www.medicinenet.com/ pernicious_anemia/article.htm [19 September 2010].

Sembiring Samuel PK. 2010. Anemia aplastik. http://www.tanyadokteranda.com/penyakit/2010/08/anemia-aplastik [19 September 2010].

Sinaga Wina. 2010. Anemia akibat kurangnya zat besi. http://www.tanyadokteranda.com/penyakit/2010/08/anemia-akibat-kurangnya-zat-besi [19 September 2010].

Sizer Frances and Ellie Whitney. 2008. Nutrition: Concepts and Controversies. USA: Thomson Wadsworth.

Sukandar EY et al. 2007. ISO Famakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan.

Senin, 20 September 2010 20:53 WIB

London (tvOne)

Para ilmuwan sudah menunjukkan bahwa aktivitas fisik bisa membuat anda pintar. Tetapi, tim di Amerika Serikat (AS) sudah menggunakan scan untuk menunjukkan bagian penting dari otak yang sebenarnya berkembang dalam diri anak yang sehat.

Anak-anak ini cenderung lebih pintar dan memiliki ingatan lebih baik dari mereka yang tidak aktif.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa salah satu bagian yang paling penting dari otak mereka 12 persen lebih besar dari anak-anak yang tidak aktif, sebagaimana dikutip dari Daily Mail.

Para peneliti dari Universitas Illinois di AS, mempelajari otak dari 49 anak-anak berusia sembilan dan sepuluh menggunakan MRI (magnetic resonance imaging) scan, teknik yang menyediakan gambaran yang sangat rinci dari organ dan jaringan dalam tubuh.

Mereka juga mengetes tingkat kebugaran dari anak-anak dengan menyuruh mereka lari di “treadmill.” Para peneliti menemukan bahwa “hippocampus,” bagian yang bertanggung jawab atas ingatan dan belajar, lebih besar kira-kira 12 persen pada anak-anak yang lebih sehat.

Mereka menemukan bahwa anak-anak ini melakukan tes ingatan dengan lebih baik. Profesor Art Kramer, yang memimpin penelitian mempublikasikan dalam jurnal “Brain Research,” mengatakan penemuan ii memiliki pengaruh penting untuk mendorong orang berolahraga sejak usia dini.

“Kami tahu bahwa pengalaman dan faktor lingkungan dan status sosial ekonomi semua mempengaruhi perkembangan otak. Bila anda memiliki beberapa gen buruk dari orang tua anda, anda tidak bisa benar-benar bisa memperbaikinya, dan tidak mudah untuk melakukan sesuatu mengenai status ekonomi anda,” kata profesor Kramer.

“Ini penelitian pertama yang saya tahu menggunakan MRI untuk melihat perbedaan dalam otak antara anak-anak sehat dan anak-anak yang tidak sehat.”

Penemuan ini bisa mendorong orang tua dan sekolah menjadikan olahraga sebagai prioritas bagi anak-anak.

Bagi pecinta makanan pedas, makanan yang mengandung banyak cabai sudah menjadi santapan sehari-hari. Tapi untuk sebagian orang, makan makanan yang pedas bisa menyebabkan mata dan hidung berair. Mengapa demikian?

Selain menambah citarasa makanan, cabai yang pedas dapat membuat tubuh sehat. Rasa pedas dan sensasi terbakar yang dihasilkan cabai disebabkan oleh konsentrasi tinggi dari bahan aktif yang disebut capsaicin.

Capsaicin merupakan bahan kimia nabati yang berasal dari alam. Bahan ini digunakan oleh cabai untuk sistem pertahanan dirinya agar tidak dimakan oleh pemangsa seperti hewan.

Capsaicin telah banyak dipelajari untuk efek mengurangi rasa sakit, manfaat baik untuk kardiovaskular, menurunkan berat badan dan membantu mencegah bisul. Selain itu, capsaicin ini juga yang membuat mata dan hidung orang yang memakannya berair. Mengapa?

Dilansir dari WHFoods, hal ini karena capsaicin dapat merangsang sekresi lendir yang membantu mengatasi hidung tersumbat, sesak paru-paru dan juga tentunya membuat orang seolah-olah menangis karena matanya berair.

Rasa pedas yang dapat merangsang sekresi lendir ini, menjadikan cabai baik untuk mencegah dan mengobati sinusitis, membantu mengurangi hidung tersumbat, flu dan sesak napas.

Tak hanya itu, mata berair ketika makan makanan pedas bisa juga disebabkan karena terjadi iritasi pada mucous membrane (selaput lendir) yang ada di mata.

Bila terjadi kontak dengan mucous membrane, seperti kulit atau mata, maka capsaicin akan menimbulkan rasa terbakar. Dan bila mempengaruhi mata, akan membuat orang menangis.

Sumber : health.detik.com